METEOR RINDU DARI SATURNUS
Hari kesembilan. Rindu masih saja terus bertahan.
Entah, esok hari kesepuluh. Mungkin, perlahan rindu akan membuatku rapuh.
Nanti, dihari kesebelas, kuharap rindu sudah iklas dan berhenti memukulku dengan keras.
Sudah sembilan hari sejak pertemuan terakhir yang tidak pernah aku harapkan itu, aku berjalan melewati detik dengan wajah yang sesekali tengadah.
Bukan untuk sombong, tapi.. terkadang aku butuh menahan genangan air yang seringkali tetiba jatuh diantara butir-butir peluh.
Rindu ini lebih sakit dari biasanya, ada hati yang belum iklas ketika aku harus membalikan badan dan berlalu bersama gerimis sore itu.
Biasanya tidak pernah ada adegan seperti ini.
Karena biasanya mataku memaksa untuk terus menatap punggungmu yang berlalu
Karena biasanya ada senyum penutup diakhir pertemuan
Karena biasanya ada sms-sms yang menerbangkan lagi kupu-kupu diperut
Karena biasanya aku tidak pernah berlalu mendahuluimu
Perang batin.
Ada rindu dan kecewa yang datang secara bersama.
Tapi tetap saja kekuatan dari "mencintaimu memang tidak pernah cukup seribu kali" itu nyata, Tuan.
Tidak pernah berhenti dan selalu seperti ini.
Seperti jarum jam yang terus berputar tiga ratus enam puluh derajat
Seperti itu hatiku merotasimu, terkadang untuk niat keluar dari lintasannya saja terasa berat
Tidak akan berubah.
Aku akan tetap bangun pada pagi dengan dada yang terasa sesak sekali
dan tertidur pada malam dengan rindu yang enggan padam.
Selamat malam, Tuan..
Aku dengan jutaan rindu yang kupunya, menyayangimu.
Peluk cium dari planet sini♥
Kamis, 28 Februari 2013
Rabu, 27 Februari 2013
Semestinya tak kuterlantarkan rindu yang terus memaksa hidup hingga pagi
Andai saja tak ada jarak yang mengunci langkah kaki,
ingin rasanya segera menyandarkan semua gelisah dan gundahku pada harum lebat rambutmu
Menebar keteduhan, meremas kecemasan..
Meninabobkan tangis semalam
Memungut lagi serpihan kata rindu yang kau cecapkan di tepian pagi
Betapa aku ingin mendengarnya ribuan kali
Seperti inginku yang selalu dahaga ingin mendekap dan rebah didadamu
Luruh dalam pusaran tatapmu dan bertekuk pasrah dalam hatimu. Selalu
Hari kedelapan, dan rindu itu masih tetap saja datang. Meski aku tidak pernah tau kau akan pulang kapan.
Sabtu, 09 Februari 2013
ADA GENANGAN YANG TUMPAH TANPA ABA-ABA, DIPELUPUK MATA
Datang sesak yang kukira takkan senyeri ini
Rongga dada, tetiba terasa sempit sekali
Udara di peparu tak lagi penuh
Bernafas terasa hanya separuh
pada senja kali ini, aku harus melepasmu lagi.
Bernafas terasa hanya separuh
pada senja kali ini, aku harus melepasmu lagi.
Lelakiku,
Betapa aku ingin terlihat kuat didepanmu
Betapa aku sangat ingin melihat mimpi-mimpi itu tidak lagi semu
Namun yang kali ini, kurasa tidak bisa
Namun yang kali ini, kurasa tidak bisa
Membendung rindu berminggu-minggu
Lalu pada saat kemarin kita bertemu
kau pasti tau, betapa ada lega yang tak terkira
Kukira rindu akan pulang menemui tuannya...
Namun, senja ini
kulihat kau harus pergi lagi
Aku berusaha unruk menahan genangan air dipelupuk mata
dan pada akhirnya genangan itu tumpah tanpa aba-aba
ketika dengan telanjang, mataku melihatmu berlalu dan menghilang
Lalu rindu itu datang lagi
kau pasti tau, betapa ada lega yang tak terkira
Kukira rindu akan pulang menemui tuannya...
Namun, senja ini
kulihat kau harus pergi lagi
Aku berusaha unruk menahan genangan air dipelupuk mata
dan pada akhirnya genangan itu tumpah tanpa aba-aba
ketika dengan telanjang, mataku melihatmu berlalu dan menghilang
Lalu rindu itu datang lagi
Rindu selalu saja tidak mau tau, datang selalu terburu-buru
Rindu itu datang ketika kereta menghilangkanmu disudut rel sana
Rindu itu datang ketika aku memberanikan diri untuk melambaikan tangan
Rindu itu datang ketika aku terduduk kembali di peron, hanya untuk mengingat beberapa menit yang lalu kau masih disini
Rindu itu datang ketika harum tubuhmu kuhirup lagi...
ingatlah, sayang
Aku ini bebal yang terkadang merindukanmu lewat batas akal
semoga akan ada kita yang tak perlu terpisah ketika rindu masih ada
semoga akan ada senja selanjutnya yang mempertemukan kita dalam jutaan rasa
semoga....
ingatlah, sayang
Aku ini bebal yang terkadang merindukanmu lewat batas akal
semoga akan ada kita yang tak perlu terpisah ketika rindu masih ada
semoga akan ada senja selanjutnya yang mempertemukan kita dalam jutaan rasa
semoga....
Langganan:
Postingan (Atom)