METEOR RINDU DARI SATURNUS
Hari kesembilan. Rindu masih saja terus bertahan.
Entah, esok hari kesepuluh. Mungkin, perlahan rindu akan membuatku rapuh.
Nanti, dihari kesebelas, kuharap rindu sudah iklas dan berhenti memukulku dengan keras.
Sudah sembilan hari sejak pertemuan terakhir yang tidak pernah aku harapkan itu, aku berjalan melewati detik dengan wajah yang sesekali tengadah.
Bukan untuk sombong, tapi.. terkadang aku butuh menahan genangan air yang seringkali tetiba jatuh diantara butir-butir peluh.
Rindu ini lebih sakit dari biasanya, ada hati yang belum iklas ketika aku harus membalikan badan dan berlalu bersama gerimis sore itu.
Biasanya tidak pernah ada adegan seperti ini.
Karena biasanya mataku memaksa untuk terus menatap punggungmu yang berlalu
Karena biasanya ada senyum penutup diakhir pertemuan
Karena biasanya ada sms-sms yang menerbangkan lagi kupu-kupu diperut
Karena biasanya aku tidak pernah berlalu mendahuluimu
Perang batin.
Ada rindu dan kecewa yang datang secara bersama.
Tapi tetap saja kekuatan dari "mencintaimu memang tidak pernah cukup seribu kali" itu nyata, Tuan.
Tidak pernah berhenti dan selalu seperti ini.
Seperti jarum jam yang terus berputar tiga ratus enam puluh derajat
Seperti itu hatiku merotasimu, terkadang untuk niat keluar dari lintasannya saja terasa berat
Tidak akan berubah.
Aku akan tetap bangun pada pagi dengan dada yang terasa sesak sekali
dan tertidur pada malam dengan rindu yang enggan padam.
Selamat malam, Tuan..
Aku dengan jutaan rindu yang kupunya, menyayangimu.
Peluk cium dari planet sini♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar