Rabu, 27 Februari 2013


Semestinya tak kuterlantarkan rindu yang terus memaksa hidup hingga pagi
Andai saja tak ada jarak yang mengunci langkah kaki,
ingin rasanya segera menyandarkan semua gelisah dan gundahku pada harum lebat rambutmu
Menebar keteduhan, meremas kecemasan..
Meninabobkan tangis semalam

Memungut lagi serpihan kata rindu yang kau cecapkan di tepian pagi
Betapa aku ingin mendengarnya ribuan kali
Seperti inginku yang selalu dahaga ingin mendekap dan rebah didadamu
Luruh dalam pusaran tatapmu dan bertekuk pasrah dalam hatimu. Selalu

Hari kedelapan, dan rindu itu masih tetap saja datang. Meski aku tidak pernah tau kau akan pulang kapan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar